Kunjungan ke tempat-tempat baru dapat memunculkan bermacam ide dan menghidupkan imajinasi. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika berada di India pada Oktober 2024 lalu dan bertemu dengan seorang wisatawan dari Barcelona di suatu penginapan di Srinagar, ibu kota Negara Bagian Jammu dan Kashmir.
Dia menyambangi India bersama ayahnya, lelaki tambun yang kepalanya telah dijajah rambut putih. Keduanya terlihat akrab dan penuh semangat. Lucunya, kami bahkan tidak mengetahui nama satu sama lain sampai berpisah. Kami sekadar berbasa-basi dalam sejumlah kesempatan.
Interaksi antar-tamu di tempat tersebut mudah terjadi karena penginapan itu sebenarnya merupakan rumah dua tingkat yang merangkap pondokan. Salah satu kamar berisi beberapa ranjang susun dengan sebuah kamar mandi untuk para turis yang mencari tempat bermalam dengan tarif terjangkau. Di situlah saya menginap, sedangkan kedua tamu asal Spanyol itu menyewa kamar lain yang letaknya entah di mana. Keluarga pemilik penginapan pun tinggal di bangunan yang sama. Semua tamu bisa menggunakan dapur beserta perkakasnya untuk memasak, memakai dan mencuci alat makan, atau mengambil air minum yang tersedia gratis. Ada halaman berumput di antara rumah dan pagar depan yang cukup untuk duduk-duduk dan menjemur pakaian. Kala itu, bagian atas bangunan sedang direnovasi.
Cuaca di Srinagar—terletak 1.500-an meter di atas permukaan laut—waktu itu sejuk dengan suhu rata-rata 20 derajat celcius. Keadaan yang pas karena tidak sedingin daerah-daerah pegunungan Kashmir seperti Sonamarg atau Naranag. Namun, bulan Oktober konon bukanlah “musim liburan” sehingga ada sebagian pengelola fasilitas pendukung seperti penginapan atau objek wisata yang kurang siap menerima kunjungan. Hal tersebut perlu diperhatikan oleh pelancong yang lebih suka datang langsung ke penyedia akomodasi tanpa reservasi terlebih dahulu. Di sisi lain, jumlah pengunjung yang lebih sedikit akan menguntungkan pengunjung yang lain, sebab ada kemungkinan untuk mendapat potongan harga kalau sang wisatawan mau tawar-menawar, misalnya dengan pemilik pondokan. Siasat itu patut dicoba wisatawan saat memilih penginapan atau penyedia jasa tur di India yang kadang tidak mempunyai kebijakan harga yang ketat.
Seperti yang tersebut di atas, percakapan saya dengan seorang turis Katalan hanyalah sopan santun antar-pelancong yang umum terjadi di akomodasi dengan tipe pondokan atau hostel. Pertanyaan awal yang biasa terlontar dalam interaksi demikian ialah asal seseorang. Kebetulan dia pernah berlibur ke Indonesia sehingga ada hal yang menjadi bahan pembicaraan. Seingat saya, dia berkunjung ke beberapa tempat di Pulau Jawa.
Dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya saya belum pernah bertemu sampai berbicara dengan orang Spanyol. Akan tetapi, saya pernah berkenalan dengan sejumlah penutur bahasa Spanyol asal Meksiko. Sayangnya, percakapan kami selalu dalam bahasa Inggris.
Destinasi pertama saya setiba di India adalah Bir, sebuah desa di Negara Bagian Himachal Pradesh yang dijuluki “ibu kota paralayang” India. Di sinilah saya iseng mencoba berbahasa Spanyol dengan orang yang datang dari Kota Meksiko (ibu kota Negara Meksiko). Kami belum lama berkenalan dan ketika itu dia baru saja selesai menelepon dalam bahasa Spanyol. Dia memberi tahu lawan bicaranya bahwa dirinya sedang bersama instruktur paralayangnya atau “mi maestro”. Saya lantas menceletuk, “Quién es tu maestro?” yang berarti ‘siapa gurumu?’ Sontak dia terkejut karena sejak awal saya sama sekali belum menyinggung soal bahasa Spanyol. Momen demikian meninggalkan kesan dan menjadi penegasan hasil belajar.
Belajar bahasa Spanyol saya awali sebagai keisengan. Mulanya saya hanya mempelajari segelintir kosakata dasar melalui aplikasi Duolingo dan—sebagaimana sebuah keisengan—tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Upaya itu terus berlangsung secara sporadis dengan semangat yang hilang-hilang timbul. Namun makin ditekuni, bahasa Spanyol makin menarik dan mengasyikkan. Saya pun belajar lebih serius sejak awal tahun 2024.
Sebagai informasi, bahasa Spanyol berada di peringkat ke-4 bahasa dengan penutur terbanyak di dunia menurut Ethnologue, katalog bahasa terlengkap di dunia. Inggris, Mandarin, dan Hindi menempati peringkat tiga besar.
Syahdan, kesempatan bertemu orang Spanyol di Srinagar itu saya manfaatkan untuk mempraktikkan kemampuan berbahasa Spanyol yang tidak seberapa. Dia bereaksi dengan positif dan mengaku dirinya juga belajar bahasa asing, di antaranya bahasa Arab. Saya lantas menimpali bahwa bahasa itu mempunyai pengaruh terhadap bahasa Spanyol (melalui kontak masyarakat Spanyol dengan bangsa Moor selama kurang lebih 800 tahun pada Abad Pertengahan). Walakin, karena keterbatasan kosakata, saya hanya bisa memberi contoh almohada (bantal) sebagai kata serapan dan dia pun kesulitan mencari kata lain. Sejak saat itu, saya menyadari serta mendapati kata-kata Spanyol lain yang berasal dari bahasa Arab, mulai dari yang umum seperti azúcar ‘gula’ (dari as-sukkar) dan arroz ‘nasi’ (dari ar-ruzz) hingga yang cukup mengejutkan seperti jabalí ‘babi hutan’ dari adjektiva jabaliyy ‘perihal gunung’. Pada momen-momen yang berbeda, saya mengatakan bahwa Indonesia “Es un país muy, muy bonito,” (sebuah negara yang amat indah) dan mengucapkan selamat makan, “¡Disfruta la comida!” Belakangan saya maklum bahwa ucapan yang kedua itu kurang tepat karena ditujukan kepada dia dan ayahnya yang sedang makan bersama. Disfruta merupakan bentuk imperatif dari kata kerja disfrutar yang bermakna ‘menikmati’ untuk orang kedua tunggal. Dalam keadaan demikian, “¡Disfrutad la comida!” (dialek Spanyol Eropa) atau “¡Disfruten la comida!” (dialek Amerika Latin) lebih akurat.
Bahasa Spanyol Eropa dan Amerika Latin memang memiliki sejumlah perbedaan, antara lain penggunaan kata ganti orang kedua jamak (kalian dalam bahasa Indonesia). Alih-alih vosotros seperti dalam dialek Spanyol Eropa, dialek Amerika Latin memakai ustedes. Konjugasi (perubahan bentuk kata kerja) untuk kedua kata ganti itu pun berbeda. Jika kita tilik, baik dialek Eropa maupun Amerika Latin mempunyai variasi dialeknya masing-masing, misalnya berdasarkan lokasi geografis penuturnya. Saya sendiri mempelajari dialek Amerika Latin karena memang berharap suatu saat bisa menginjakkan kaki di negara-negara Amerika yang berbahasa Spanyol. Tak heran, celetukan sang turis agar saya berpelesir ke sana membangkitkan imajinasi tentang tango, tako, dan keeksotisan belahan dunia nun jauh itu. Siapa coba yang tidak mau?
Sekianlah sepenggal cerita dari Kota Srinagar. Saya menganggap pelancong dari suatu negara sebagai representasi—betapa pun kecilnya—dari tempat asalnya. Prinsip tersebut juga saya coba terapkan pada diri sendiri selama bepergian ke mancanegara atau daerah lain di Indonesia. Obrolan dengan orang Katalan di pondokan itu boleh dibilang membawa saya, meski hanya serejang, ke Barcelona.
Tinggalkan komentar